Riyana, di Usia 26 Tahun

 Bismillahirrahmanirrahim

Assalammu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, terima kasih teman-teman yang sudah mau membaca tulisanku kali ini


Hari ini, usiaku sudah memasuki 26 tahun lebih satu bulan. Ada banyak hal dan target yang qadarullah belum tercapai, dan beruntungnya Allah ganti dengan hal lain yang mungkin menurut Allah apa yang sudah terjadi sampai hari ini adalah yang terbaik.


Sejenak, untuk postingan yang ini saja aku ingin update bagaimana kehidupanku yang sekarang, sehingga ketika kelak aku membacanya lagi, ada pengingat bahwa aku sudah mulai bertumbuh menjadi lebih baik.



KELUARGA

Alhamdulillah aku masih diberikan kesempatan untuk berada ditengah-tengah keluarga yang lengkap. Ayah dan Ibu yang sehat dan menyayangi anak-anaknya. Kakak yang tinggal jauh diluar kota dan sudah mulai terbuka jika diajak bicara. Adik-adikku yang berada di fase semangat bekerja. Meski tak kuceritakan bagian "kurangnya", percayalah setiap keluarga punya masalah dan rahasianya masing-masing. Jadi, biarlah yang disembunyikan tetap pada tempatnya. Semoga Allah melindungi kita semua. Aamiin



KARIR

Sejak tanggal 23 Juni 2023, aku sudah mulai aktif bekerja di perusahaan BUMN, tepatnya menjadi bagian dari "cucu" perusahaan Pertamina. Sudah lama rasanya ingin resign dari tempat kerja yang lama, dan alhamdulillah ditahun ini Allah menunjukkan dan memudahkan jalannya. Jika dilihat dari segi penghasilan, memang tidak jauh berbeda. Setidaknya jarak tempuh dari rumah ke kantor menjadi lebih dekat, perbandingannya sampai satu jam lebih cepat. Begitu pula dengan transportasinya yang lebih mudah dan nyaman. Aku tidak perlu lagi antri kalau mau naik angkot JakLingko, sekarang sudah berganti menjadi bus Trans Jakarta yang sekali angkut bisa memuat lebih banyak orang. Selain itu, aku berharap bisa menambah skill dan pengetahuanku tentang dunia kerja. Aku masih banyak kurangnya, jadi aku ingin terus berkembang menjadi lebih baik. Mohon do'anya ya. Semoga teman-teman juga mendapatkan yang terbaik dari sisi Allah, aamiin.



KEUANGAN

Cukup disyukuri saja yaa, karena pada saat transisi dari pekerjaan yang lama ke pekerjaan yang baru, aku cukup banyak mengeluarkan uang. Mulai dari beli chromebook, pakaian, sampai sepatu. Pun pada saat mulai bekerja, aku selalu mengiyakan ajakan teman kantor untuk beli makanan/minuman diluar budget. Hal ini karena aku ingin sedikit demi sedikit mengenal mereka, sehingga adaptasi di kantor menjadi lebih mudah. Mudah-mudahan Allah memberikan rezeki yang lebih banyak dan berkah yaa untuk kita semua, aamiin.



ASMARA

Tibalah dipoin yang sangat ingin aku ceritakan. Sudah sangat lama aku tidak berkomunikasi dengan teman dekat "pria" yang pernah kusukai sejak jaman kuliah. Kini perlahan aku sudah mulai menerima apa yang dahulu pernah terjadi, dan biarkan menjadi salah satu cerita yang tak akan pernah bisa aku lupakan sampai kapanpun. Dia pernah menjadi angin yang sejuk dalam hidupku, meski kini angin itu sudah pergi. Dia juga pernah menjadi ujian bagi hatiku, meski kini ujiannya sudah pindah ke lain orang. 

Ya, aku pernah mengiyakan ketika ada seorang pria yang mengajakku untuk ta'aruf, dengan berpasrah diri kepada Allah akupun mengiyakan. Ketika masih ditahap pertukaran CV, aku selalu berdo'a, "Ya Allah, jika dia memang jodoh hamba, mohon mudahkanlah jalannya. Tapi jika bukan, mohon berikan kami petunjuk agar prosesnya cukup sampai disini saja". Qadarullah, ternyata Allah kabulkan do'aku yang kedua, beliau memutuskan untuk tidak melanjutkan prosesnya. Kukira rasanya akan biasa saja, toh akupun baru mengenal pria itu ketika Mentorku menawarkan ajakan ta'aruf dari pria itu. Nyatanya, aku kembali terluka. meski baru ditahap awal, aku merasa sedih dan tidak berdaya, beberapa kali berfikir, apakah aku memang belum pantas untuk menjadi seorang istri yang dapat diandalkan? Seiring berjalannya waktu aku pun kembali belajar menerima dengan lapang dada, memohon kepada Allah agar hati ini semakin luas dalam menerima apapun kehendak-Nya. Hingga akhirnya beliau hanya menjadi salah satu cerita dalam perjalanan pencarian jodoh ini. 

Selang beberapa bulan, seorang teman bermaksud mengenalkan sepupunya padaku. Beliau tinggal diluar kota dan keluarganya memiliki latar belakang pendidikan pesantren. Kali ini aku pun lebih selektif lagi, lebih hati-hati agar tidak terluka lagi. Ketika beliau mengirimkan CV nya yang hanya memuat informasi dasar, aku pun membuat CV yang hanya memuat informasi yang sama, hal ini agar informasi dari CV yang didapatkan oleh masing-masing berimbang. Setelah pertukaran CV, kami pun saling memberikan beberapa pertanyaan yang tentunya dikomunikasikan lewat temanku, karna aku punya prinsip, "Daripada udah kenal tapi ga jadi, mending jangan kenal sekalian sebelum yakin mau proses ta'aruf". Dari awal aku memang menyampaikan sedang tidak terburu-buru, tapi bukan berarti aku tidak punya tenggat waktu untuk menunggu jawaban seseorang. Jika semakin lama, maka kemungkinan ada keraguan dalam hatinya, sedangkan jika semakin cepat, mudah-mudahan dia sudah yakin dengan keputusannya. Alhasil, ternyata jawabannya memang beliau masih ragu, sehingga kuputuskan bahwa proses "perkenalan" ini sudah tidak bisa dilanjutkan.


Dari ceritaku hari ini, mungkin bisa dibilang biasa saja jika dibandingkan dengan cerita orang lain yang jatuh bangun hingga sukses. Tapi inilah aku, orang biasa yang senang menulis. Inilah caraku untuk mengekspresikan apa yang aku rasakan. Semoga ada hikmah yang bisa diambil. See you teman-teman

Komentar