Hello, Wamena! - Jalan-Jalan Virtual Bersama Jakarta Tour Guide

Hello, Wamena! -  Jalan-Jalan Virtual Bersama Jakarta Good Guide

Ahad, 20 September 2020

19.00 WIB - selesai

Jakarta Good Guide

Kak Cindy @cherie.the.explorer


"Wamena adalah kota yang sangat kecil, namun sangat berkesan, karena di Wamena aku belajar simple is the beauty." -Kak Cindy (Jakarta Good Guide)


Hari Minggu lalu, tepatnya tanggal 20 September 2020, aku berkesempatan untuk mengikuti Jalan-Jalan Virtual ke Wamena bersama Jakarta Good Guide. Dengan dipandu oleh Kak Cindy selaku tour guide kami, perjalanan jadi lebih menyenangkan dan ga ngebosenin sama sekali, dan kita langsung saja cerita tentang sebuah kota bernama Wamena!


Wamena merupakan sebuah kota yang berada di Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua, Indonesia, sekaligus merupakan ibu kota kabupaten tersebut. Di Wamena sendiri memiliki populasi terbesar di Papua Barat, yakni lebih dari 200.000 orang yang menghuni di Lembah Baliem. Orang-orang ini termasuk dalam sejumlah suku, dan yang paling menonjol adalah Suku Dani, Lani, dan Yali.


Wamena sendiri masih bisa dikatakan kota baru, dulu ga ada kota Wamena, bahkan ekspedisi pertama ke lembah Wamena pun dilakukan secara tidak sengaja oleh seorang penjelajah yang sedang mencari keberadaan burung Cendrawasih di tahun 1938. Lalu, beberapa tahun kemudian datanglah penjelajah lain yang ingin mencari lebih dalam tentang suku Dani. Nama penjelajah kedua tersebut adalah  Joseph Lorentz, karena itu untuk menghargai jasa beliau, sebuah tempat wisata di provinsi Papua dinamakan Taman Nasional Lorentz.


Kondisi suhu di Wamena sendiri cukup dingin, maka dari itu pengunjung harus berbekal jaket yang tebal agar tidak merasa kedinginan selama berada di Wamena.

Youtube: Pesona Kota Wamena, Kota Indah nan Berudara Sejuk di Lembah Baliem Kabupaten Jayawujaya Papua


Perjalanan ke Wamena:

Jam terbang dari Jakarta ke Papua menghabiskan waktu sekitar 10 jam 15 menit dengan perbedaan waktu 2 jam lebih awal di Papua (berdasarkan Google Maps). Untuk penerbangannya sendiri menghabiskan dana Rp.5.480.000 untuk sekali perjalanan (berdasarkan Traveloka). Penerbangan akan menggunakan pesawat besar dari Jakarta-Jayapura, lalu dilanjutkan dengan pesawat kecil dari Jayapura-Wamena. 

Meski perjalanan masih  dilakukan lewat jalur udara, namun pemerintah Indonesia sudah membangun Jalan Trans Papua dengan panjang jalan mencapai 2.345 kilometer dan ditargetkan selesai pembangunannya pada tahun 2020 ini.

Catatan: Saat melakukan perjalanan, usahakan membawa barang secukupnya, karena seperti pengalaman Kak Cindy, ketika pesawat kecil (Jayapura-Wamena) sudah tidak bisa lagi menampung beban, maka barang-barang di bagasi akan dipindahkan ke penerbangan berikutnya. Sedangkan untuk penerbangan Jayapura-Wamena hanya bisa maksimal 2x penerbangan, itupun masih tergantung dengan cuaca disana.

Youtube: #JKWBLOG Menyusuri Trans Papua dengan Motor Trail


Fakta Menarik Tentang Suku Dani:

a. Harta yang paling berharga dari suku Dani adalah babi, fungsinya: sebagai mas kawin, dll. Bahkan babi sudah dianggap seperti anak kandung sendiri, karena ASI Ibu diberikan kepada babi, dan itulah yang menjadi awal dari tradisi Karapan Babi yang ada di Wamena. Maka dari itu jangan sampai membunuh babi disana jika tidak ingin ditombak


b. Kalau mau foto harus tanya local guidenya, karena di Wamena sendiri tidak banyak terekspos, sehingga jika tidak ada izin foto, maka warga lokal akan merasa terintimidasi dan berpikir bahwa pengunjung akan melakukan hal-hal yang merugikan desanya. Selain harus izin, ternyata untuk satu kali jepretan foto, warga lokal memberikan tarif Rp.50.000. Jadi jika ingin berkunjung ke Papua, harus benar-benar membawa bekal yang banyak yaa


c. Rumah-rumah di Wamena sangat tertutup karena untuk menghindari angin yang sangat dingin ketika malam tiba. Untuk alas tidurnya pun, Suku Dani masih menggunakan jerami yang harus diganti 3 hari sekali  untuk menghindari digigit kutu babi. Bagi pengunjung yang berminat untuk menginap di salah satu rumah suku Dani dan tidak terbiasa menggunakan alas jerami mungkin sebaiknya juga membawa sleeping bag, atau memakai pilihan kedua yakni tinggal di penginapan yang biayanya akan sangat mahal.


d. Pakaian Tradisional Suku Dani yang terkenal dengan nama koteka dibuat dari Labu Air yang dikeringkan beberapa kali. Koteka di Suku Dani memiliki beberapa ukuran dan bentuk, disesuaikan dengan golongan orang yang memakainya. Usia minimal yang dapat memakai koteka ini pun dibatasi, minimal sudah berusia 5 tahun.

e. Jenis-jenis koteka Suku Dani:

  • Koteka yang agak melengkung ke samping: Dipakai oleh panglima atau tabib
  • Koteka yang berbentuk lurus: Hanya dipakai untuk warga biasa
  • Koteka yang memiliki lengkungan kedepan dan memiliki hiasan lukisan: Hanya boleh dipakai oleh Kepala Suku
Sekarang sebagian warga disana sudah mulai memakai pakaian dari kain, namun ketika festival mereka akan mempertahankan menggunakan pakaian tradisional mereka (koteka) untuk melestarikan budaya asli Papua

e. Pembagian Tugas Suku Dani:
Pria: Membangun rumah dan berperang. 
Wanita: Mengolah ladang dan merawat babi
 
f. Suku Dani sangat pintar dalam mengolah hasil alam, salah satunya gigi babi yang digunakan sebagai asesoris wajah yang digunakan oleh tokoh tertentu. Selai itu, hasil olah pertaniannya pun menjanjikan, seperti kualitas dan ukuran sayur-sayuran serta umbi-umbian yang lebih besar dari ukuran biasanya yang sering kita temukan di pasaran. Makanan disana rata-rata umbi-umbian, babi, dan buah merah. Dan umbi2an yang dibakar dengan bakar batu sangat manis, karena jerami/rumput yang dibakar merupakan rempah2 pilihan.

g. Harga makanan terbilang cukup mahal, karena selain hasil tani, warga harus mengimpor sumber makanan/minuman/barang dari Wamena yang transportasinya menggunakan jalur udara. Bahkan untuk harga satu porsi pecel saja, dihargai sekitar Rp.125.000, itu pun belinya di warung pinggir jalan.


h. Panggilan untuk wanita semua umur adalah mama, dan kata iya adalah wawa, serta kata makasih disebut wawawawa. Tentunya pengucapan kata-kata tersebut juga menggunakan logat yang khas.

i. Tidak ada pendidikan disana, tidak ada yang bisa membaca, dan kalaupun ada yg bisa membaca hanya 1 atau 2 orang.

j. Suku Dani memiliki tradisi potong satu ruas jari apabila salah satu anggota keluarganya ada yang meninggal. Hal ini dilakukan karena jari merupakan lambang kerukunan dan kesatuan, sehingga ketika ada yang meninggal, maka satu kekuatan hilang. Namun belakangan ini, tradisi potong jari sudah mulai berkurang.

k. Setahun sekali sekitar bulan Agustus akan digelar Festival Lembah Baliem yang terbuka bagi wisatawan ya.ng tidak ingin menginap di rumah penduduk. Di festival tersebut akan digelar pertunjukan perang. Perang itu sendiri bagi warga Wamena dianggap bukanlah hal yang negatif, melainkan menjadi simbol kesuburan.

Masih ada yang kurang banyak sihh dari cerita aku, sisanya bisa kalian cari-cari lagi yaa di Google. Have a nice day all :)


Sumber: Catatan pribadi dikombinasikan dengan Google dan Youtube

Komentar