Waktu aku di SD



Assalammualaikum warrahmatullahi wabarakatuh...
Bismillahhirrahmannirrahim
Hai teman teman, selamat datang kembali di blog aku. Postingan kali ini sebenernya adalah jawaban dari soal UAS aku di kampus. emang sengaja aku share disini karna menurut aku ada nilai positif yang bisa aku share ke kalian. Semoga bermanfaat yaaa.. Selamat membaca :) 
---------------------------------------------------------------------------------------------------------
Waktu aku SD adalah momen momen penuh kenangan yang membentuk jati diri ku sampai saat ini. Perkenalkan namaku Riyana, semasa SD aku bersekolah di dua tempat berbeda. SD ku yang pertama bernama SD N Kutowinangun 1 yang berada di Kota Salatiga, Jawa Tengah. Sedangkan SD ku yang kedua bernama SD N Tarogong 2 yang berada di Garut, Jawa Barat.  Di SD Tarogong inilah aku menghabiskan masa sekolahku dari kelas 1 semester 2 sampai kelulusan. Dan cerita dimulai dari sekarang.

Mungkin kalian sempat menebak nebak apakah pekerjaan orang tuaku, mengapa sampai harus pindah seperti itu. Polisi mungkin? Bukan. PNS? Bukan juga. Lalu? Jadi teman teman, pekerjaan ayahku hanyalah seorang Sales di sebuah perusahaan swasta biasa, memang sudah menjadi bagian dari pekerjaanya jika suatu saat harus dimutasi kemanapun ditugaskan. Nah, karna sebelumnya ayah bekerja di Jakarta dan waktu itu tiba-tiba dimutasi ke Garut, secara otomatis keluargaku pun ikut pindah ke Garut. OK cukup cerita tentang latar belakangku, kembali ke tema awal. Singkat cerita aku dan keluarga sampai di Garut dan menempati sebuah kontrakan di tengah tengah penduduk yang ramah. Kebetulan tetangga depan rumah ku seumuran dengan ku, namanya Rani Lismuflihah. Dia lah teman pertamaku saat SD di Garut, perannya sangat penting dalam kenangan waktu SD.

Dihari-hari pertamaku di sekolah aku cukup kesulitan dalam pemakaian bahasa. Sudah jelas bukan, aku yang sebelumnya memakai bahasa Jawa dalam keseharianku, sekarang aku harus mendengarkan bahasa Sunda kemanapun aku melangkah. Disinilah peran Pahlawan sangat dibutuhkan. Semenjak aku menjadi tetangga dekat Rani, setiap berangkat dan pulang sekolah kami selalu bersama. Sangat indah ketika membayangkannya saat ini. Jadi dimanapun disaat aku kesulitan dalam menjawab pertanyaan orang lain, Rani langsung menerjemahkannya untukku. Sungguh Rani lebih baik daripada guru Bahasa Sunda di sekolahku, hehe.

Ketika di sekolah, aku bertemu dan berteman dengan banyak anak-anak seusiaku. Senang rasanya mendapatkan banyak teman padahal aku baru pindah beberapa minggu saja. Diantara teman teman ku ada beragam karakter yang menjadi ciri khas bagi masing-masing anak. Dalam cerita sekolah, pasti ada tokoh terpintar dikelas, ada tokoh yang suka bikin heboh, ada tokoh laki-laki yang sukanya ngegosipin orang, ada tokoh yang suka malakin anak lainnya, ada yang suka ngebos, ada anak guru yang dihargai semua orang dan ada juga tokoh pendiam yang hanya berinteraksi dengan satu atau dua teman dekatnya saja, yaitu aku salah satunya.

Ada satu kejadian lucu ketika aku masih duduk di kelas 1 SD. Saat itu guru bahasa Indonesia mengadakan sebuah tes, salah satu soalnya adalah “Terbuat apakah tempe?”, lalu aku menjawab sesuai sepengetahuanku. Lalu ketika soal tersebut diperiksa dan dibagikan kembali, aku protes kenapa jawaban aku salah, dengan percaya dirinya aku kedepan dan protes sama guru bersama beberapa teman yang lain. Alhasil setelah sempat keras kepala sama jawabanku, ternyata itu hanya membuatku tambah malu saja. Jawaban yang benar adalah ‘Kedelai’ bukan ‘Keledai’ seperti jawabanku. Hahaha sampai saat ini, memori itu masih bertahan dibenakku.

Baik teman-teman, sepertinya jika cerita ku ini tidak dibatasi akan luber kemana mana. Sekarang aku hanya akan memberikan poin-poin pelajaran yang aku dapatkan semasa SD. Yuk mulai...

1.      Jangan membiasakan hal buruk sekecil apapun dari kecil. Jika sudah terlanjur, perbaiki dari sekarang, tidak ada kata terlambat untuk menjadi lebih baik.
Dalam mendidik anak-anaknya, ibuku selalu menekankan nilai kesopanan. Salah satunya adalah dilarang berkata kasar atau mengumpat kepada orang lain. Pernah suatu saat aku bertengkar dengan temanku, lalu dengan mudahnya dia ngadu ke kakak ku kalau aku berkata kasar. Sontak aku yang tau bagaimana rasanya kalo ibu marah ketakutan. Walaupun aku sudah menjelaskan kalo itu berita bohong, teman-teman kakakku malah mengarakku sampai ke rumah, seperti akan ada sebuah pertunjukan yang berjudul “Dilaporkan berkata kasar, seorang anak dimarahi habis-habisan oleh ibunya sendiri di depan khalayak ramai”. Duh, sampai saat ini kejadian itulah yang menahanku agar tidak berkata kasar kepada siapapun dan sekesal apapun. Biarpun aku tak ketahuan oleh ibu, tetap saja aku merasa bersalah jika berkata kasar.

2.      Fokus pada apa yang kamu kerjakan sekarang. Selesaikan tugasmu satu persatu tanpa menghambat tugas yang lain.
Diantara semua mata pelajaran, pelajaran Penjaskes adalah yang terfavorit. Apalagi saat pemanasan lari keliling lapangan, semangat sekali. Tapi itu bukanlah sebuah prestasi jika bakat kita tidak bermanfaat bagi orang lain. Saat lomba antar sekolah sekabupaten itu berlangsung, aku masih duduk di kelas 5 SD. Seperti biasa aku bukanlah orang yang menarik perhatian kecuali jika aku yang teriak,”Hei! Aku ada disini.”. Waktu itu berkat temanku, aku berhasil lolos menjadi salah satu peserta lomba Lari Cepat. Selama masa pelatihan aku selalu memberikan usaha terbaikku hingga aku merasa cukup optimis untuk menjadi seorang pemenang. Hari H pun tiba, aku yang pertama kali ikut berpartisipasi dalam perlombaan diberikan dukungan sebesar-besarnya oleh ayah dan ibu. Mereka berdua sampai membelikanku sepatu baru. Lalu ketika tanda ‘start’ itu digaungkan, aku berlari secepat yang aku bisa, namun tiba-tiba aku berhenti sejenak karna ada yang berteriak. Aku kehilangan fokus karna merasa teriakan itu ditujukan untukku, ternyata dalam sekian detik aku berhenti, secepat itu pula lah peserta yang lain menyusulku. Tinggallah aku yang menjadi juara ketiga dalam tahap penyisihan paling awal. Menyesal? Ya, tentu saja. Tapi ada yang bisa aku dapatkan dari kejadian itu. Sampai saat ini ketika aku mulai kehilangan semangat untuk belajar, kekalahan masa lalu menjadi pecutan tak kasat mata untuk tetap fokus mengejar hasil yang diinginkan.

3.      Kejujuran adalah nomer 1. Karna dengan kejujuran kita bisa berhasil.
Bagiku ulangan harian atau semesteran merupakan ajang yang menunjukan sudah sejauh mana kita menyerap ilmu yang sudah dipelajari. Namun, bagi beberapa orang, ulangan ini menjadi ajang menyontek bersama sama. Entah apa maksud dari kegiatan korsa ini. Walau begitu, bagiku tetap saja yang namanya ulangan atau tes apapun itu harus jujur dan hasil belajar sendiri. Berulang kali setiap aku akan melakukan ulangan di hari itu, aku selalu bertanya pada ibuku, “Bu, kalo nilai puput jelek gapapa ya? Asal puput ngerjainnya sendiri.” Dan jawaban ibuku selalu “Iya” tidak masalah sekecil apapun nilainya, yang terpenting adalah prosesnya. Namun tetap saja, malamnya sebelum ulangan aku akan belajar habis-habisan agar nilaiku bisa mengimbangi anak-anak yang nyontek ke buku atau antar teman, bahkan nilaiku harus lebih baik lagi. Sikap inilah yang mengiringi perjalanan hidupku sampai saat ini.

 Itulah sekelebat hidupku waktu SD. Singkat memang, tapi inilah memori yang aku miliki. Dokumenter ini akan menjadi saksi betapa bahagianya aku menjadi diriku sendiri dimanapun dan kapanpun

Komentar